{"id":10245,"date":"2019-09-02T17:33:51","date_gmt":"2019-09-02T17:33:51","guid":{"rendered":"https:\/\/keblog.demoapp.xyz\/?p=10245"},"modified":"2022-10-19T03:56:25","modified_gmt":"2022-10-19T03:56:25","slug":"kalibrr-x-rubyid-bahasa-ruby-untuk-perusahaan-1-juta-dolar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/kalibrr-x-rubyid-bahasa-ruby-untuk-perusahaan-1-juta-dolar","title":{"rendered":"Kalibrr x RubyID : Bahasa Ruby untuk Perusahaan 1 Juta Dolar"},"content":{"rendered":"<p class=\"text-align-justify\">Berkolaborasi dengan komunitas <a href=\"https:\/\/ruby.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ruby Indonesia<\/a>, Kalibrr mengadakan meetup bertajuk \u201cRoad to RubyConfID 2019\u201d. Di kesempatan kali ini, Kalibrr dan Ruby Indonesia membahas bagaimana bahasa pemrograman Ruby masih relevan dan mampu mendukung startup unicorn Indonesia, GoJek.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\">Bertempat di <a href=\"http:\/\/tier-space.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">TierSpace<\/a>, Jakarta Selatan, meetup kali ini terbagi ke dalam 2 sesi diskusi. Sesi pertama dibawakan langsung oleh Didik Wicaksono, CTO Cookpad Indonesia. Ia menjelaskan mengapa Ruby itu menyenangkan dan mampu memberikan profit yang lebih bagi individu dan perusahaan. Selain karena penulisan bahasa pemrograman Ruby yang cukup fleksibel, Ruby memiliki library (kumpulan code dalam suatu modul) yang banyak jumlahnya. Inilah yang membuat bahasa Ruby dapat mendongkrak nggak hanya performa, namun juga biaya dalam produksi.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\">\u201cMenulis ruby itu mudah, programmer dapat mengekspresikan diri mereka ke dalam kode yang dibuat. Selain itu, Ruby juga membuat kita menulis kode yang lebih sederhana.\u201d Kata Didik.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-medium wp-image-10250\" src=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/narasumber-300x169.jpeg\" alt=\"narasumber\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/narasumber-300x169.jpeg 300w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/narasumber-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/narasumber-768x432.jpeg 768w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/narasumber-1536x864.jpeg 1536w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/narasumber-2048x1152.jpeg 2048w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\">Sesi kedua dibawakan oleh Giovanni Sakti, System Engineer GoJek, Ia membahas soal Ruby yang menurut orang-orang lambat, dan menjelaskan mengapa pendapat itu tidak relevan 90% setiap saat.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\">\u201cYang bilang kalau Ruby itu lambat biasanya ada 2 jenis orang. Yang pertama adalah <em>evangelist<\/em> dari bahasa pemrograman lain, yang kedua adalah orang-orang yang benar-benar sudah menyentuh batas optimisasi Ruby. Karena bahasa pemrograman itu hanya bagian kecil dari persepsi kecepatan pengguna.\u201d Jelas pria yang kerap disapa Gio.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-medium wp-image-10248\" src=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/sesi-tanya-jawab-300x169.jpeg\" alt=\"sesi-tanya-jawab\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/sesi-tanya-jawab-300x169.jpeg 300w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/sesi-tanya-jawab-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/sesi-tanya-jawab-768x432.jpeg 768w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/sesi-tanya-jawab-1536x864.jpeg 1536w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/sesi-tanya-jawab-2048x1152.jpeg 2048w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\">Menurutnya ada banyak faktor, sedikitnya 3 komponen yang harus dioptimalkan sebelum masuk pada bahasa Ruby itu sendiri. Ketiga komponen tersebut adalah <em>Network <\/em>(jaringan), <em>I\/O <\/em>(input output), dan <em>Framework<\/em>. Ketika komponen-komponen tersebut telah dimaksimalkan, baru kita dapat menganalisa performa dari bahasa pemrograman. Bahkan setelah kita mengoptimalkan Ruby, kita masih harus mempertimbangkan aspek <em>external service<\/em> yang nggak bisa kita kendalikan.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\">\u201cGoJek sendiri dari awal telah lama menggunakan Ruby hingga akhirnya mencapai valuasi 1 juta dollar. Namun ketika beranjak ke valuasi di atas ini, kita memang harus mulai menggunakan kombinasi bahasa pemrograman yang lain.\u201d lanjut Gio.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\">Sebagai penutup Gio juga menjelaskan bahwa setiap bahasa pemrograman diciptakan untuk tujuan khusus agar dapat memiliki performa yang tinggi. Contohnya seperti Ruby yang memang didesain untuk <em>web development<\/em>. Golang untuk <em>micro service <\/em>dan sebagainya.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\">Dengan adanya kolaborasi seperti ini diharapkan Kalibrr dapat terus meningkatkan ekosistem IT di Indonesia melalui dukungan-dukungan yang diberikan kepada komunitas IT untuk bertumbuh dan meningkatkan kemampuan khususnya dalam era digital.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\">Terakhir, kalau kamu penasaran lowongan kerja di GoJek, yuk klik di <a href=\"https:\/\/www.kalibrr.id\/portal\/go-jek-indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sini<\/a>!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berkolaborasi dengan komunitas Ruby Indonesia, Kalibrr mengadakan meetup bertajuk \u201cRoad to RubyConfID 2019\u201d. Di kesempatan kali ini, Kalibrr dan Ruby Indonesia membahas bagaimana bahasa pemrograman Ruby masih relevan dan mampu mendukung startup unicorn Indonesia, GoJek. Bertempat di TierSpace, Jakarta Selatan, meetup kali ini terbagi ke dalam 2 sesi diskusi. Sesi pertama dibawakan langsung oleh Didik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":10246,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[18],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10245"}],"collection":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10245"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10245\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10246"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10245"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10245"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10245"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}