{"id":15903,"date":"2020-01-09T12:15:28","date_gmt":"2020-01-09T12:15:28","guid":{"rendered":"https:\/\/keblog.demoapp.xyz\/?p=15903"},"modified":"2023-09-22T15:31:01","modified_gmt":"2023-09-22T08:31:01","slug":"ada-apa-dengan-orang-dalam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/ada-apa-dengan-orang-dalam","title":{"rendered":"Ada Apa dengan \u201cOrang Dalam\u201d?"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-15909\" src=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam.png\" alt=\"ada-apa-dengan-orang-dalam\" width=\"1326\" height=\"446\" srcset=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam.png 1326w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam-300x101.png 300w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam-1024x344.png 1024w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam-768x258.png 768w\" sizes=\"(max-width: 1326px) 100vw, 1326px\" \/><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\">Fenomena \u2018orang dalam\u2019 tentu tak akan lekang oleh waktu untuk dibahas. Misteri ini seringkali digunjingkan, bahkan mengundang sentimen negatif di antara para <em>jobseeker<\/em>. Bagaimana tidak? <em>Jobseeker <\/em>yang berkualitas, atau setidaknya memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan dalam suatu pekerjaan, seringkali \u2018terhempas\u2019 dengan <em>jobseeker <\/em>yang berhasil mendapatkan pekerjaan karena bantuan \u2018orang dalam\u2019.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Di satu sisi, fenomena ini tentu saja menjadi pengingat pentingnya <em>networking <\/em>dalam dunia kerja. Semakin luas <em>network<\/em>, semakin luas pula kesempatan untuk mendapatkan rekomendasi bekerja. Lantas, apakah salah jika lolos seleksi dengan bantuan orang dalam? Ada apa dengan \u2018orang dalam\u2019?<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Apabila diuraikan lebih lanjut, misteri \u2018orang dalam\u2019 ini seringkali memiliki makna yang ambigu. Pada dasarnya, \u2018orang dalam\u2019 dapat diartikan sebagai karyawan yang bekerja dalam suatu perusahaan, dan merekomendasikan orang yang dikenalnya untuk bekerja di perusahaan yang sama. Apakah hal ini salah? Tentu tidak. Dalam hal ini, rekomendasi hanyalah sebatas <em>referral<\/em>, tanpa usaha untuk mempengaruhi maupun memaksa pihak <em>recruiter <\/em>dalam pengambilan keputusan. Konkritnya, karyawan tersebut hanya bertindak sebagai \u2018kurir\u2019 dalam menyampaikan <em>resume <\/em>orang yang dikenalnya.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Sistem <em>referral <\/em>ini bahkan difasilitasi dan diterapkan oleh beberapa perusahaan dengan pemberian <em>reward <\/em>pada sang \u2018kurir\u2019. Selain mempercepat proses rekrutmen, sistem ini juga dianggap efektif dengan pertimbangan kualitas kandidat yang lebih dapat dipertanggungjawabkan. Terbayang kan bagaimana beban moralnya karyawan tersebut jika mereferensikan kandidat yang kurang berkualitas? Informasi yang diterima pun memungkinkan untuk lebih kaya karena adanya informasi-informasi tambahan dari sang kurir, akan semakin banyak bahan pertimbangan bukan?<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Lalu apanya yang ambigu? <em>Well<\/em>, tentunya tidak akan ada masalah apabila peran \u2018orang dalam\u2019 hanya sebatas uraian di atas. Namun, seringkali \u2018orang dalam\u2019 tersebut cenderung mencoba untuk mempengaruhi atau bersikap <em>demanding <\/em>kepada pihak <em>recruiter <\/em>untuk menerima kandidat yang dititipkannya, meskipun kandidat tersebut tidak memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan. Bentuk \u2018pengaruh\u2019-nya pun seringkali ditampilkan dengan berbagai macam cara. Mulai dari \u2018rayuan pulau kelapa\u2019, memberikan pemberian-pemberian kecil yang dikenal dengan istilah nepotisme, hingga desakan atau ancaman secara halus. Nah pertanyaannya, apakah pelakunya hanyalah karyawan? Ataukah juga pihak <em>management <\/em>sendiri? <em>Oops<\/em>!<\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_26 counter-hierarchy\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\">TOPICS<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" style=\"display: none;\"><label for=\"item\" aria-label=\"Table of Content\"><i class=\"ez-toc-glyphicon ez-toc-icon-toggle\"><\/i><\/label><input type=\"checkbox\" id=\"item\"><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class=\"ez-toc-list ez-toc-list-level-1\"><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/ada-apa-dengan-orang-dalam\/#Apa_saja_sih_dampak_orang_dalam_yang_demanding_pada_perusahaan\" title=\"Apa saja sih dampak orang dalam yang demanding pada perusahaan?\">Apa saja sih dampak orang dalam yang demanding pada perusahaan?<\/a><ul class=\"ez-toc-list-level-3\"><li class=\"ez-toc-heading-level-3\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/ada-apa-dengan-orang-dalam\/#1_Kecemburuan_sosial\" title=\"1. Kecemburuan sosial\u00a0\">1. Kecemburuan sosial\u00a0<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/ada-apa-dengan-orang-dalam\/#2_Pembengkakan_manpower_cost\" title=\"2. Pembengkakan manpower cost\">2. Pembengkakan manpower cost<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/ada-apa-dengan-orang-dalam\/#3_Dari_lack_of_competence_hingga_unproductivity\" title=\"3. Dari &#8216;lack of competence&#8217; hingga &#8216;unproductivity&#8217;\u00a0\">3. Dari &#8216;lack of competence&#8217; hingga &#8216;unproductivity&#8217;\u00a0<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/ada-apa-dengan-orang-dalam\/#Mengapa_orang_dalam_bertindak_demanding\" title=\"Mengapa \u2018orang dalam\u2019 bertindak demanding?\">Mengapa \u2018orang dalam\u2019 bertindak demanding?<\/a><ul class=\"ez-toc-list-level-3\"><li class=\"ez-toc-heading-level-3\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/ada-apa-dengan-orang-dalam\/#1_Pemahaman_yang_salah_terkait_fleksibilitas_standar_seleksi_karyawan\" title=\"1. Pemahaman yang salah terkait fleksibilitas standar seleksi karyawan.\">1. Pemahaman yang salah terkait fleksibilitas standar seleksi karyawan.<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/ada-apa-dengan-orang-dalam\/#2_Merasa_memiliki_power\" title=\"2. Merasa memiliki power.\">2. Merasa memiliki power.<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/ada-apa-dengan-orang-dalam\/#3_Adanya_conflict_of_interest\" title=\"3. Adanya conflict of interest.\">3. Adanya conflict of interest.<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/ada-apa-dengan-orang-dalam\/#Siapa_saja_sih_yang_bertanggung_jawab_untuk_mencegah_fenomena_orang_dalam_ini\" title=\"Siapa saja sih yang bertanggung jawab untuk mencegah fenomena \u2018orang dalam\u2019 ini?\">Siapa saja sih yang bertanggung jawab untuk mencegah fenomena \u2018orang dalam\u2019 ini?<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/ada-apa-dengan-orang-dalam\/#Lalu_bagaimana_sih_cara_untuk_mencegah_fenomena_orang_dalam\" title=\"Lalu, bagaimana sih cara untuk mencegah fenomena \u2018orang dalam\u2019?\">Lalu, bagaimana sih cara untuk mencegah fenomena \u2018orang dalam\u2019?<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Apa_saja_sih_dampak_orang_dalam_yang_demanding_pada_perusahaan\"><\/span><strong>Apa saja sih dampak orang dalam yang <em>demanding <\/em>pada perusahaan?<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Jika proses seleksi karyawan diwarnai oleh pengaruh orang dalam, berikut beberapa dampak yang mungkin terjadi dalam perusahaan:<\/p>\n<h3 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Kecemburuan_sosial\"><\/span><strong>1. Kecemburuan sosial\u00a0<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Adanya campur tangan orang dalam seringkali identik dengan nepotisme yang menimbulkan asumsi bahwa kandidat yang diterima tidak sesuai dengan standar kompetensi yang dibutuhkan. Akibatnya, akan menyebabkan lingkungan toxic yang berisi cibiran, serta pandangan negatif terkait standar seleksi \u2018karet\u2019.<\/p>\n<h3 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Pembengkakan_manpower_cost\"><\/span><strong>2. Pembengkakan <em>manpower cost<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Jika penerimaan karyawan didasari oleh permintaan orang dalam, bukan berdasarkan kebutuhan <em>manpower <\/em>di lapangan, tentu saja akan menyebabkan terjadinya pembengkakan manpower yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan. Bukankah hanya akan menjadi <em>wasted cost<\/em>?<\/p>\n<h3 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Dari_lack_of_competence_hingga_unproductivity\"><\/span><strong>3. Dari <em>&#8216;lack of competence&#8217;<\/em> hingga <em>&#8216;unproductivity&#8217;\u00a0<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\">Penerimaan karyawan berdasarkan tuntutan orang dalam seringkali berimbas pada penerimaan yang \u2018dipaksakan\u2019, dalam arti penerimaan karyawan bukan karena kesesuaian kompetensi yang dibutuhkan. Akibatnya, kandidat terkait kurang mampu menunjukkan kapabilitas dan kinerja yang maksimal, dan berdampak pada kurangnya produktivitas pada bagian terkait.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-15905\" src=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam_.jpg\" alt=\"ada-apa-dengan-orang-dalam\" width=\"1059\" height=\"628\" srcset=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam_.jpg 1059w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam_-300x178.jpg 300w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam_-1024x607.jpg 1024w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam_-768x455.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1059px) 100vw, 1059px\" \/><\/p>\n<h2 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mengapa_orang_dalam_bertindak_demanding\"><\/span><strong>Mengapa \u2018orang dalam\u2019 bertindak <em>demanding<\/em>?<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Seringkali, orang dalam cenderung bersikap <em>demanding <\/em>ketika merekomendasikan kandidat karena didasari oleh beberapa hal berikut:<\/p>\n<h3 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Pemahaman_yang_salah_terkait_fleksibilitas_standar_seleksi_karyawan\"><\/span><strong>1. Pemahaman yang salah terkait fleksibilitas standar seleksi karyawan.<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Seringkali budaya standar rekrutmen yang \u2018negotiable\u2019 masih melekat pada beberapa orang atau perusahaan. Artinya, peluang nepotisme dari orang dalam memang seringkali muncul karena adanya pemikiran bahwa standar seleksi yang diterapkan masih memiliki celah untuk dapat dinegosiasikan dengan mempertimbangkan aspek-aspek lain.<\/p>\n<h3 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Merasa_memiliki_power\"><\/span><strong>2. Merasa memiliki <em>power<\/em>.<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">\u201cPokoknya apapun hasilnya, harus diterima ya!\u201d. Hal ini umumnya pernyataan pamungkas yang digunakan oleh pihak-pihak pemangku jabatan yang memiliki wewenang lebih tinggi dalam suatu perusahaan. <em>Well, the power of \u2018boss\u2019 is real,\u00a0 right?<\/em><\/p>\n<h3 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Adanya_conflict_of_interest\"><\/span><strong>3. Adanya <em>conflict of interest.<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\">Tidak bisa dipungkiri, <em>conflict of interest<\/em> seringkali terjadi dalam proses seleksi. Adanya tuntutan untuk menerima referensi orang dalam seringkali didasari oleh alasan yang berkaitan dengan kepentingan-kepentingan pribadi. Misalnya, orang dalam yang merekomendasikan kandidat yang dikenalnya atas asas <em>symbiosis mutualism<\/em>. <em>Symbiosis mutualism<\/em> yang dimaksud, dapat digambarkan dalam berbagai contoh yang bersifat transaksional seperti \u201cKalau saya berhasil mendesak pihak recruiter\/user untuk menerima kamu sebagai atasan saya, jangan lupa untuk bantu saya naik jabatan yah!\u201d.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-15907\" src=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam-.jpg\" alt=\"ada-apa-dengan-orang-dalam\" width=\"1059\" height=\"628\" srcset=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam-.jpg 1059w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam--300x178.jpg 300w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam--1024x607.jpg 1024w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ada-apa-dengan-orang-dalam--768x455.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1059px) 100vw, 1059px\" \/><\/p>\n<h2 class=\"text-align-justify\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Siapa_saja_sih_yang_bertanggung_jawab_untuk_mencegah_fenomena_orang_dalam_ini\"><\/span><strong>Siapa saja sih yang bertanggung jawab untuk mencegah fenomena \u2018orang dalam\u2019 ini?<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Apakah <em>recruiter <\/em>adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab? Tentu saja tidak. Pihak <em>management <\/em>perusahaan turut mengambil andil di dalamnya. Pihak management sering kali meruntuhkan peraturan dan sistem yang telah ditetapkan. Ibaratnya, menertibkan \u2018anak\u2019 butuh kerja sama antara \u2018orang tua\u2019 dan \u2018kakek\/nenek\u2019 untuk menjaga konsistensi pola asuh. <em>That\u2019s how it works!<\/em><\/p>\n<h2 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Lalu_bagaimana_sih_cara_untuk_mencegah_fenomena_orang_dalam\"><\/span><strong>Lalu, bagaimana sih cara untuk mencegah fenomena \u2018orang dalam\u2019?<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><em>&#8211; Make it clear from the very beginning!\u00a0<\/em><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Ketika terdapat orang dalam yang memberikan referensi kandidat, informasikan sejak awal bahwa kandidat hanya akan diproses sesuai standar dan kebutuhan yang berlaku. Hal ini bertujuan untuk menghindari terbentuknya asumsi standar seleksi yang <em>negotiable<\/em>.<\/p>\n<ul>\n<li dir=\"ltr\">\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\">Informasikan konsekuensi apabila menerima kandidat di bawah standar, baik dampak pada perusahaan maupun kandidat itu sendiri. Apabila orang dalam berusaha untuk mendesak pengambilan keputusan, uraikan konsekuensi apabila menerima kandidat di bawah standar secara detail.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Konsekuensi yang diuraikan dapat mencakup konsekuensi produktivitas perusahaan, maupun kemungkinan kandidat untuk burn out jika tidak mampu catch up dengan tuntutan pekerjaan terkait.<\/p>\n<ul>\n<li dir=\"ltr\">\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\">Selektif dalam menerima perlakuan baik dari karyawan\/rekan kerja.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Menerima pemberian dari rekan kerja berupa benda ataupun makanan seringkali merupakan hal yang biasa. Namun, ada baiknya untuk bersikap lebih selektif dalam menerima perlakuan baik dari rekan kerja\/karyawan. Hal ini bertujuan untuk menghindari terbentuknya ekspektasi orang dalam akan kemungkinan nepotisme. Terutama jika rekan kerja terkait pernah mereferensikan kandidat sebelumnya.<\/p>\n<ul>\n<li dir=\"ltr\">\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\">Buat kesepakatan dengan pihak <em>management<\/em>.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Agar memiliki \u2018pola asuh\u2019 yang konsisten, ada baiknya untuk membuat kesepakatan dengan pihak management terkait hal-hal yang mungkin dapat melanggar standar seleksi karyawan. Misalnya, menerbitkan aturan-aturan mengenai sanksi jika terdapat orang dalam yang berusaha untuk melakukan nepotisme. Agar dapat meyakinkan pihak management untuk membuat kesepakatan ini, pastikan juga untuk menguraikan dampak-dampaknya pada perusahaan.<\/p>\n<ul>\n<li dir=\"ltr\">\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\" role=\"presentation\">Komunikasikan hasil seleksi secara objektif berdasarkan data.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Jika kandidat yang direferensikan tidak sesuai dengan standar seleksi yang telah ditentukan, argumentasikan dengan alasannya secara objektif \u00a0berdasarkan data.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Gunakan <em>online assessment <\/em>agar <em>track<\/em> hasil <em>assessment <\/em>dapat diolah secara otomatis oleh sistem. Dengan demikian, hasil <em>assessment <\/em>dapat digunakan sebagai bukti yang valid, dan menghindari dugaan subjektif atau rekayasa hasil <em>assessment <\/em>oleh <em>recruiter<\/em>.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\">Jika dilihat kembali, \u2018orang dalam\u2019 sejatinya adalah pihak yang netral, loh! <em>If the company knows how to utilizing and handle it, it would be an advantage.<\/em> Namun, jika pihak perusahaan lalai dalam menerapkan pola asuhnya, <em>it would be a boomerang as well. Last but not least, it depends on how to manage the<\/em> \u2018orang dalam\u2019. Iya, orang dalam tuh semacam pisau bermata dua, iya kan?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fenomena \u2018orang dalam\u2019 tentu tak akan lekang oleh waktu untuk dibahas. Misteri ini seringkali digunjingkan, bahkan mengundang sentimen negatif di antara para jobseeker. Bagaimana tidak? Jobseeker yang berkualitas, atau setidaknya memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan dalam suatu pekerjaan, seringkali \u2018terhempas\u2019 dengan jobseeker yang berhasil mendapatkan pekerjaan karena bantuan \u2018orang dalam\u2019. Di satu sisi, fenomena ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15903"}],"collection":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15903"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15903\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15903"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15903"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15903"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}