{"id":7777,"date":"2021-02-24T14:18:18","date_gmt":"2021-02-24T14:18:18","guid":{"rendered":"https:\/\/keblog.demoapp.xyz\/?p=7777"},"modified":"2022-10-19T04:54:43","modified_gmt":"2022-10-19T04:54:43","slug":"manajemen-faktor-ini-berkontribusi-untuk-pekerja-burnout-lebih-cepat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/manajemen-faktor-ini-berkontribusi-untuk-pekerja-burnout-lebih-cepat","title":{"rendered":"Manajemen, 5 Faktor Ini Berkontribusi untuk Pekerja Burnout Lebih Cepat"},"content":{"rendered":"<p>Sampai sekarang&#8211;khususnya di Indonesia&#8211;masih banyak orang yang abai terhadap pentingnya kesehatan mental diri sendiri dan juga kesehatan mental orang lain. Saking abainya, mereka tidak percaya bahwa beberapa situasi dalam bekerja itu bisa menyebabkan terganggunya kesehatan mental, apalagi jika tidak tertangani dengan baik.<\/p>\n<p>Mudahnya, sebagian dari masyarakat tidak percaya akan hadirnya <em>burnout<\/em>, yang merupakan kepanjangan dari perasaan stres dan tertekan yang terlalu lama diabaikan. Jika awalnya, World Health Organisation hanya menyebut definisi <em>burnout<\/em> hanya kondisi kelelahan mental dan fisik, kini definisi <em>burnout<\/em> melebar ke \u201ckondisi stres kronis akibat kerja dan tidak berhasil diatasi atau tertangani dengan baik\u201d.<\/p>\n<p>Meluasnya definisi <em>burnout<\/em>, akhirnya menyadarkan sebagian masyarakat&#8211;masih ada yang tidak percaya&#8211;akan kebenaran dan kehadiran kondisi <em>burnout<\/em>, dan mulai mencari-cari informasi mendalam mengenai burnout dan ciri-ciri orang yang mengidap burnout.<\/p>\n<p>Dari <a href=\"https:\/\/www.gallup.com\/workplace\/237059\/employee-burnout-part-main-causes.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sebuah studi yang dilakukan Gallup<\/a> tentang <em>employee burnout<\/em> atau <em>job burnout<\/em>, ditemukan 23 persen dari pekerja yang disurvei (n: 7.500 pekerja), sering atau selalu merasa <em>burnout<\/em> akan pekerjaannya. Sedangkan 44 persen lainnya mengaku terkadang merasa <em>burnout<\/em>.<\/p>\n<p>Walaupun sebagian pekerja menganggap <em>burnout<\/em> merupakan bagian dari \u201cresiko pekerjaan\u201d, banyak kerugian yang harus ditanggung pekerja juga perusahaan akibat <em>burnout<\/em>.<\/p>\n<p>Enam puluh tiga persen pekerja yang terkena <em>burnout<\/em> berpotensi mengambil waktu cuti dan 2,6 kali berpotensi mencari pekerjaan lain yang memiliki tingkat resiko pekerjaan lebih rendah dibanding pekerjaannya yang sekarang. Dan walaupun mereka berhasil bertahan dengan pekerjaannya yang sekarang, 13 persen dari mereka merasakan berkurangnya kepercayaan diri dalam performa mereka dan sering merasa gagal.<\/p>\n<figure class=\"kg-card kg-image-card\"><img class=\"kg-image\" src=\"https:\/\/lh6.googleusercontent.com\/GmlWhyHa8p910JZFulRxUmbe2jCWc3fJ03gmzc5okQJW-O834IFcISHtcMIBIlEbzJXular98WoEKM0KXLx9-N2x2mufF3STRcl_-wnKoR-OI4iprJleaAbaySMbpq7XyPEhj5TC\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<p>Terdapat beberapa faktor utama yang dapat menyebabkan pekerja mudah terkena <em>burnout<\/em>, antara lain:<\/p>\n<p>1. Perlakuan yang tidak adil di kantor<\/p>\n<p>Ketika pekerja tidak mendapat perlakuan yang adil di perusahaan, pekerja memiliki kemungkinan 2,3 kali lebih rentan terhadap <em>burnout<\/em>. Perlakuan tidak adil ini dapat berupa anak emas, perlakuan yang salah dari rekan kerja dan atasan, hingga kompensasi atas pekerjaan yang tidak sebanding dengan pengorbanan pekerja.<\/p>\n<p>Ketika pekerja merasa diperlakukan tidak adil oleh atasan atau rekan kerjanya, hal ini dapat merusak ikatan kerja yang mungkin sudah terbangun sedemikian lama.<\/p>\n<p>2. Tugas dan tanggung jawab yang tidak dapat dikelola<\/p>\n<p>Pekerja yang memiliki performa tinggi dan optimis dalam setiap pekerjaannya bisa secara tiba-tiba merasa tidak berdaya dan tidak semangat dalam mengerjakan pekerjaannya. Hal ini diakibatkan <em>workload<\/em> pekerjaan yang tidak dapat dikelola sendiri.<\/p>\n<p>Ketika <em>workload<\/em> tidak dapat dikelola oleh diri sendiri dan pekerjaan terasa berada di luar kontrol, pekerja harus segera membicarakan hal ini kepada manajemen dan juga HR untuk membantu mereka mengatasi masalah, entah dengan membagi-bagi tugas ke rekan kerja yang lain, atau merekrut pekerja baru atau <em>intern<\/em> untuk membantu sementara waktu.<\/p>\n<p>3. Target pekerjaan yang blur<\/p>\n<p>Sebuah studi yang dipublikasi oleh State of American Workplace, menyebut hanya 60 persen dari pekerja yang disurvei tidak tahu dengan pasti hasil apa yang diharapkan dari pekerjaan mereka. Ketika target pekerjaan hanya berfokus pada akuntabilitas dan ekspektasi, pekerja bisa merasa kelelahan karena tidak tahu target yang sebetulnya diinginkan oleh manajemen.<\/p>\n<p>Manajemen yang baik adalah manajemen yang mampu mendiskusikan dan memberikan target pekerjaan yang jelas kepada pekerjanya dan berkolaborasi dengan mereka untuk memastikan bahwa target tersebut sudah jelas dan sejalan dengan target perusahaan.<\/p>\n<p>4. Kurangnya komunikasi dan dukungan manajemen<\/p>\n<p>Komunikasi dan dukungan dari manajemen dan rekan kerja ternyata berpengaruh akan tingkat kemungkinan pekerja terkena <em>burnout<\/em>. Sebanyak 70 persen pekerja setuju bahwa dukungan dan komunikasi dua arah dari manajemen sangat berarti untuk menurunkan resiko stres dan <em>burnout<\/em> akibat tugas dan tanggung jawab pekerjaan.<\/p>\n<p>Sebaliknya, jika pekerja tidak mendapat dukungan dan komunikasi bersifat hanya satu arah dapat menyebabkan pekerja merasa diabaikan, terisolasi, dan defensif terhadap kritik dan masukan. Tentu saja, <em>burnout<\/em> juga menyertai pekerja yang tidak mendapat dukungan dan komunikasi satu arah ini.<\/p>\n<figure class=\"kg-card kg-image-card\"><img class=\"kg-image\" src=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/yR0KR27SaijkOgN1j_qz7-8Ejc5I46jt-PjYqAQDyfidKSCwUQFcKUtGCpc3bEvEBstxSSDQ25d7vsw17UQoLuVXmhBvUCUhzRYfqwdJMLHFzyTtMaxSO8zGQMhV2EQVGa8rkLx2\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<p>5. Tekanan batas waktu kerja yang tidak wajar<\/p>\n<p>Apakah Anda salah satu dari sekian banyak orang yang pernah berkata jika 24 jam rasanya tidak cukup untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab pekerjaan? Hati-hati, ternyata batas waktu kerja bisa mempengaruhi mudahnya seseorang untuk terkena <em>burnout<\/em>.<\/p>\n<p>Demi mendapatkan hasil kerja yang sempurna, pekerja sering tidak segan untuk lembur demi mengejar <em>deadline<\/em>. Sayangnya, mengejar <em>deadline<\/em> dan waktu kerja yang tidak masuk akal merupakan faktor penyebab <em>burnout<\/em> yang paling sering dijumpai. Pekerjaan yang memiliki <em>deadline<\/em> dan waktu kerja yang tidak masuk akal meningkatkan resiko <em>burnout<\/em> lebih cepat.<\/p>\n<p>Pekerja yang <em>burnout<\/em> dapat merusak kemampuan perusahaan untuk melakukan <em>decision-making<\/em> hingga pelayanan terhadap customer atau klien.<\/p>\n<p>Burnout memang tidak dapat dihindari. Namun, Anda dapat mencegahnya. Jika Anda adalah seorang pemimpin, Anda bisa mencoba untuk membuat lingkungan kerja yang lebih ramah terhadap pekerja. Ubah cara manajemen perusahaan untuk mencegah pekerja <em>burnout<\/em> dengan mendengarkan masukan atau keluhan dari pekerja.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.kalibrr.com\/contactus\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/35.234.31.133\/sites\/default\/files\/inline-images\/01%20CTA%20Blog_13.jpg\" alt=\"CTA\" width=\"849\" height=\"175\" data-align=\"center\" data-entity-type=\"file\" data-entity-uuid=\"4292521c-3195-4747-b3e7-6c40cdb7c89f\" \/><\/a><\/p>\n<p>Artikel ini dilansir dari <a href=\"https:\/\/www.gallup.com\/workplace\/237059\/employee-burnout-part-main-causes.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gallup<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.healthline.com\/health-news\/you-can-now-officially-be-diagnosed-with-burnout-what-are-the-signs#What-can-be-done-about-it\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Healthline<\/a>, dan <a href=\"https:\/\/www.scientificamerican.com\/article\/5-surprising-causes-of-burnout\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Scientific American<\/a>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sampai sekarang&#8211;khususnya di Indonesia&#8211;masih banyak orang yang abai terhadap pentingnya kesehatan mental diri sendiri dan juga kesehatan mental orang lain. Saking abainya, mereka tidak percaya bahwa beberapa situasi dalam bekerja itu bisa menyebabkan terganggunya kesehatan mental, apalagi jika tidak tertangani dengan baik. Mudahnya, sebagian dari masyarakat tidak percaya akan hadirnya burnout, yang merupakan kepanjangan dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":7779,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7777"}],"collection":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7777"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7777\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7779"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7777"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7777"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7777"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}