{"id":7782,"date":"2021-02-22T14:18:54","date_gmt":"2021-02-22T14:18:54","guid":{"rendered":"https:\/\/keblog.demoapp.xyz\/?p=7782"},"modified":"2022-10-19T04:54:43","modified_gmt":"2022-10-19T04:54:43","slug":"faktor-pemicu-job-burnout","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/faktor-pemicu-job-burnout","title":{"rendered":"6 Faktor Pemicu Job Burnout"},"content":{"rendered":"<article class=\"Post__ArticleWrapper-sc-174xy8l-0 ccdSnC\">\n<div class=\"Post__SectionWrapper-sc-174xy8l-1 jkcuFG\">\n<p>Namanya kerja, pasti ada suatu waktu, di mana Anda merasa lelah, ingin beristirahat, ingin lari sejenak dari segala kegiatan rutinitas yang terasa memuakkan. Namun, apa daya, terkadang ada <em>deadline<\/em> yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Ada <em>meeting<\/em> yang tidak dapat ditinggalkan. Ada tanggung jawab yang tidak dapat didelegasikan. Dan, terkadang, tanggal merah masih jauh menerawang. Mau tidak mau, Anda pun kembali terjebak dalam rutinitas yang semakin hari, semakin terasa berat untuk dijalankan.<\/p>\n<p>Kejadian seperti ini yang lama-kelamaan bisa menuntut Anda ke dalam <em>job burnout state<\/em> alias kondisi <em>burnout<\/em> akibat pekerjaan. Menurut artikel dari Healthline, <em>burnout<\/em> adalah suatu kondisi kelelahan mental dan fisik yang dapat mengganggu kehidupan karir, pertemanan, hingga hubungan di dalam keluarga.<\/p>\n<p><em>Burnout<\/em> sendiri terjadi akibat stres yang berkepanjangan dan tidak tertangani dengan baik. Parahnya, <em>burnout<\/em> yang sudah mengakar lama, dapat menyebabkan depresi klinis. Selain depresi klinis, <em>burnout<\/em>juga dapat mengurangi rasa kepercayaan diri seseorang, hingga menyebabkan seseorang merasa selalu gagal dalam hal yang dikerjakannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tidak mudah untuk mengetahui apakah seseorang sedang mengalami <em>burnout<\/em>. Bahkan, sulit bagi diri sendiri untuk mengetahui <em>burnout<\/em> yang sedang dialami. Orang yang terkena <em>burnout<\/em> pun sering membantah bahwa dirinya sedang <em>burnout<\/em>.<\/p>\n<p>Namun, biasanya orang yang mengalami <em>job burnout<\/em> akan terlihat seperti tidak mampu untuk memberikan usaha terbaiknya lagi untuk melakukan pekerjaannya, dan bahkan terlihat malas untuk bergerak dari tempat tidurnya sekalipun, apalagi hari Minggu menjelang Senin. Mereka juga terlihat lebih <em>hopeless<\/em> dan pesimis dalam melihat masa depan.<img class=\"kg-image\" src=\"https:\/\/lh6.googleusercontent.com\/jDKO8iqX_jGM46y18Tj-FbUmxH7pu4K6qw9YhzoeuL27RCkeN9g_MfvK_6iU42E9nxXjSXTTgCG_5yPw8ze7RF2wyYHRzHforwmbtYmLba6M6ervUtWOnZK5cGyKUeMxtLYL3b4C\" alt=\"\" \/><\/p>\n<p>Ada beberapa faktor pekerjaan yang dapat menyebabkan seorang pekerja untuk mudah terkena <em>burnout<\/em>:<\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_26 counter-hierarchy\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\">TOPICS<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" style=\"display: none;\"><label for=\"item\" aria-label=\"Table of Content\"><i class=\"ez-toc-glyphicon ez-toc-icon-toggle\"><\/i><\/label><input type=\"checkbox\" id=\"item\"><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class=\"ez-toc-list ez-toc-list-level-1\"><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/faktor-pemicu-job-burnout\/#1_Tuntutan_yang_tidak_mungkin_dijalankan\" title=\"1. Tuntutan yang tidak mungkin dijalankan\">1. Tuntutan yang tidak mungkin dijalankan<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/faktor-pemicu-job-burnout\/#2_Kurangnya_waktu_untuk_istirahat\" title=\"2. Kurangnya waktu untuk istirahat\">2. Kurangnya waktu untuk istirahat<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/faktor-pemicu-job-burnout\/#3_Pekerjaan_dengan_resiko_kegagalan_tinggi\" title=\"3. Pekerjaan dengan resiko kegagalan tinggi\">3. Pekerjaan dengan resiko kegagalan tinggi<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/faktor-pemicu-job-burnout\/#4_Kurangnya_personal_control\" title=\"4. Kurangnya personal control\">4. Kurangnya personal control<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/faktor-pemicu-job-burnout\/#5_Leadership_yang_buruk\" title=\"5. Leadership yang buruk\">5. Leadership yang buruk<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/faktor-pemicu-job-burnout\/#6_Komunikasi_yang_buruk\" title=\"6. Komunikasi yang buruk\">6. Komunikasi yang buruk<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Tuntutan_yang_tidak_mungkin_dijalankan\"><\/span>1. Tuntutan yang tidak mungkin dijalankan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ada pekerjaan yang walaupun sudah dijelaskan sedemikian rupa, sudah diusahakan sedemikain rupa, namun tetap tidak mungkin dijalankan. Pekerja yang memiliki tuntutan pekerjaan seperti ini rentan untuk terkena <em>burnout<\/em> akibat stres karena minimnya angka keberhasilan pekerjaan tersebut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Kurangnya_waktu_untuk_istirahat\"><\/span>2. Kurangnya waktu untuk istirahat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Banyak pekerjaan dan industri pekerjaan yang menuntut agar pekerjanya selalu produktif tanpa mengenal waktu. Apalagi sejak kebijakan WFH dijalankan. Banyak pekerjaan yang bahkan harus diselesaikan sesegera mungkin, bahkan hingga larut malam. Pekerja pun jadi kurang memiliki waktu untuk istirahat. Jika, hal ini berlaku berkepanjangan, bukan tidak mungkin seorang pekerja akan terkena <em>burnout<\/em> akibat kurangnya istirahat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Pekerjaan_dengan_resiko_kegagalan_tinggi\"><\/span>3. Pekerjaan dengan resiko kegagalan tinggi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pada dasarnya, normal bagi seorang manusia untuk melakukan sebuah kesalahan. Begitu pula dengan pekerja. Namun, ada beberapa pekerjaan yang memiliki tingkat resiko kegagalan yang tinggi dan fatal. Sebut saja pengacara dan pekerja medis. Dua jenis pekerjaan ini disebut memiliki tingkat<em> job burnout<\/em>yang tinggi dibanding pekerjaan yang lain.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Kurangnya_personal_control\"><\/span>4. Kurangnya <em>personal control<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Sebagai seorang manusia yang ingin memiliki kontrol atas hidupnya, pekerja pun menginginkan kontrol penuh atas apa yang dikerjakannya. Pekerja menginginkan kebebasan untuk mengekspresikan kreativitasnya dan memecahkan masalah yang datang menghampiri. Jika pekerja merasa dihalang-halangi untuk mengontrol keputusannya akan pekerjaan, maka kemungkinan pekerja terkena <em>job burnout<\/em> akan semakin besar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"5_Leadership_yang_buruk\"><\/span>5.<em> Leadership<\/em> yang buruk<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Seorang <em>leader<\/em> yang bisa menjadi pencegah <em>burnout<\/em> atau berkontribusi terhadap burnout pekerjanya. Jika <em>leader<\/em> tidak dapat menghargai dan memperlakukan pekerjanya dengan baik, maka <em>leader<\/em> tersebut dapat berkontribusi akan <em>burnout<\/em> yang dialami pekerjanya. Jika seorang <em>leader<\/em> dapat menghargai dan memperlakukan pekerjanya dengan baik, maka <em>leader<\/em> dapat mencegah pekerjanya terkena <em>job burnout<\/em>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"6_Komunikasi_yang_buruk\"><\/span>6. Komunikasi yang buruk<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Komunikasi yang buruk dapat membuat sebuah pekerjaan atau masalah menjadi runyam. Seperti penjelasan akan pekerjaan yang kurang jelas, kurangnya komunikasi dua arah antara rekan kerja atau atasan-bawahan, atau kurangnya pengakuan atas keberhasilan pekerja.<\/p>\n<p>Jika pekerja merasa berada di dalam faktor-faktor yang disebutkan di atas, ada baiknya Anda mengambil cuti sementara untuk memutus rantai stres dan <em>burnout<\/em>. Lewat cuti sementara, Anda bisa kembali memulihkan kesehatan mental untuk kembali beraktivitas seperti semula. Jika memungkinkan, ada baiknya Anda juga menyampaikan keluhan ini kepada HR atau atasan Anda. Bicarakan apa yang dirasa salah dalam pekerjaan dan budaya kerja yang ada.<\/p>\n<p>Namun, jika <em>burnout<\/em> dirasa tidak membaik setelah Anda melakukan semua hal yang dapat dilakukan untuk memulihkan diri, ada baiknya Anda mencari pertolongan profesional, seperti konselor untuk mengatasi permasalahan.Artikel ini dilansir <a href=\"https:\/\/www.verywellmind.com\/job-factors-that-contribute-to-employee-burnout-3144512\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Very Well Mind<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.healthline.com\/health\/tips-for-identifying-and-preventing-burnout#who-gets-it\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Healthline<\/a>, dan <a href=\"https:\/\/www.mayoclinic.org\/healthy-lifestyle\/adult-health\/in-depth\/burnout\/art-20046642\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MayoClinic<\/a>.<\/p>\n<\/div>\n<\/article>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Namanya kerja, pasti ada suatu waktu, di mana Anda merasa lelah, ingin beristirahat, ingin lari sejenak dari segala kegiatan rutinitas yang terasa memuakkan. Namun, apa daya, terkadang ada deadline yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Ada meeting yang tidak dapat ditinggalkan. Ada tanggung jawab yang tidak dapat didelegasikan. Dan, terkadang, tanggal merah masih jauh menerawang. Mau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":7785,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7782"}],"collection":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7782"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7782\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7785"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7782"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7782"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7782"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}