{"id":8680,"date":"2020-11-20T17:43:29","date_gmt":"2020-11-20T17:43:29","guid":{"rendered":"https:\/\/keblog.demoapp.xyz\/?p=8680"},"modified":"2022-10-19T03:56:09","modified_gmt":"2022-10-19T03:56:09","slug":"miskonsepsi-dan-aspek-penting-dalam-terapkan-budaya-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/miskonsepsi-dan-aspek-penting-dalam-terapkan-budaya-kerja","title":{"rendered":"Miskonsepsi dan Aspek Penting dalam Terapkan Budaya Kerja"},"content":{"rendered":"<p>Budaya kerja alias\u00a0<em>workplace culture<\/em>\u00a0merupakan istilah yang paling sering disalahartikan dalam sebuah institusi perusahaan atau organisasi. Persepsi umum yang dimiliki oleh budaya tempat kerja adalah bahwa budaya itu merupakan kepribadian organisasi, terlepas dari individu yang terdapat di dalamnya. Sayangnya, persepsi ini merupakan persepsi yang salah.<\/p>\n<p>Budaya kerja merupakan budaya yang dianut oleh individu yang terikat di dalamnya. Budaya kerja terbentuk akibat persamaan nilai, kepercayaan, tingkah laku, hingga asumsi yang terbangun oleh tim yang berada di tempat kerja tersebut. Pengetahuan kolektif tim inilah yang membentuk struktur operasional sebuah perusahaan.<\/p>\n<p>Membangun budaya kerja yang kuat dan sehat tentu saja membutuhkan waktu, konsistensi serta komitmen yang dituangkan ke dalam komunikasi dan transparansi yang terbangun secara bersama dalam setiap level pekerjaan yang ada di tempat kerja tersebut. Menanamkan budaya kerja harus menjadi prioritas sejak awal seorang talent masuk ke dalam lingkup perusahaan, tanpa terkecuali. Apakah budaya yang terbangun nantinya bisa jadi budaya kerja yang tidak sehat atau sehat, semua tergantung dari bagaimana pekerja mengimplementasikan nilai-nilai yang ada.<\/p>\n<p>Terdapat beberapa miskonsepsi yang salah dalam membangun sebuah budaya kerja di tempat kerja, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Budaya kerja yang baik tidak menakut-nakuti pekerjanya<\/strong>. Menakut-nakuti pekerja dengan hukuman dan sanksi jika pekerja tidak mencapai\u00a0<em>KPI<\/em>\u00a0bukanlah pilihan yang tepat untuk membangun budaya kerja yang baik. Budaya kerja dengan hukuman dan sanksi hanya bisa membangun budaya yang instan, namun mudah untuk dihancurkan dan berpotensi merusak citra perusahaan.<\/li>\n<li><strong>Budaya kerja yang baik adalah gaji tinggi dan\u00a0<\/strong><em><strong>benefit<\/strong><\/em><strong>\u00a0yang banyak<\/strong>. Tidak, konsep ini merupakan konsep budaya kerja yang salah. Memang, gaji yang tinggi dan\u00a0<em>benefit<\/em> yang banyak untuk pekerja bisa membuat pekerja merasa bahagia, namun ada baiknya budaya kerja terbangun atas dasar nilai dan tujuan yang dianut oleh pekerja dan perusahaan secara bersama, bukan berdasar materi dan keuntungan yang didapat masing-masing individu yang bekerja.<\/li>\n<li><strong>Budaya kerja datang dari HR<\/strong>. Salah. Bukan hanya HR yang harus bersusah payah memikirkan, mengkampanyekan, dan mengimplementasikan budaya kerja yang baik di tengah pekerja. Pemimpin juga harus mengimplementasikan budaya kerja yang baik agar bisa menjadi contoh bagi pekerjanya. Pekerja pun harus bisa mengimplementasikan budaya kerja yang ada selama berada di tempat kerja. Komitmen inilah yang harus dipegang secara bersama, mulai dari level terendah di perusahaan hingga level\u00a0<em>C-Suite<\/em>.<\/li>\n<li><strong style=\"font-size: 14px\">Budaya kerja yang baik adalah pekerja yang bahagia, tanpa ada konflik, dan sedikit kesalahan dalam bekerja<\/strong><span style=\"font-size: 14px\">. Tentu saja ini merupakan miskonsepsi dalam membangun budaya kerja. Harus ada keseimbangan dalam setiap emosi positif dan negaif yang dikeluarkan oleh pekerja. Konflik juga tidak selamanya berdampak negatif, konflik bisa membawa nilai positif jika setelahnya didapati jalan keluar dan penyelesaian yang bermanfaat dari pihak-pihak yang berkonflik. Kesalahan dalam bekerja merupakan hal yang normal. Justru lewat kesalahan inilah, orang bisa terus belajar dan mengubah diri mereka ke arah yang lebih baik.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p>Untuk itulah, dalam menerapkan budaya kerja, Anda perlu mengerti tentang tujuh aspek esensial penting terkandung dalam budaya kerja agar bisa berdampak positif untuk organisasi atau perusahaan yang lebih baik, antara lain:<\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_26 counter-hierarchy\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\">TOPICS<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" style=\"display: none;\"><label for=\"item\" aria-label=\"Table of Content\"><i class=\"ez-toc-glyphicon ez-toc-icon-toggle\"><\/i><\/label><input type=\"checkbox\" id=\"item\"><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class=\"ez-toc-list ez-toc-list-level-1\"><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/miskonsepsi-dan-aspek-penting-dalam-terapkan-budaya-kerja\/#1_Tujuan\" title=\"1. Tujuan\">1. Tujuan<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/miskonsepsi-dan-aspek-penting-dalam-terapkan-budaya-kerja\/#2_Kesempatan_Belajar\" title=\"2. Kesempatan Belajar\">2. Kesempatan Belajar<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/miskonsepsi-dan-aspek-penting-dalam-terapkan-budaya-kerja\/#3_Apresiasi\" title=\"3. Apresiasi\">3. Apresiasi<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/miskonsepsi-dan-aspek-penting-dalam-terapkan-budaya-kerja\/#4_Kesejahteraan\" title=\"4. Kesejahteraan\">4. Kesejahteraan<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/miskonsepsi-dan-aspek-penting-dalam-terapkan-budaya-kerja\/#5_Teamwork\" title=\"5.\u00a0Teamwork\">5.\u00a0Teamwork<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/miskonsepsi-dan-aspek-penting-dalam-terapkan-budaya-kerja\/#6_Rasa_hormat_dan_adil\" title=\"6. Rasa hormat dan adil\">6. Rasa hormat dan adil<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/miskonsepsi-dan-aspek-penting-dalam-terapkan-budaya-kerja\/#7_Kepemimpinan\" title=\"7. Kepemimpinan\">7. Kepemimpinan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Tujuan\"><\/span>1. Tujuan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Berikan gambaran tujuan yang jelas bagi setiap pekerja untuk meningkatkan antusiasme mereka dalam bekerja. Dengan adanya tujuan, pekerja pun dapat memberikan proses kerja serta tingkah laku yang terbaik dalam bekerja.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Kesempatan_Belajar\"><\/span>2. Kesempatan Belajar<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kesempatan belajar dapat membantu pekerja untuk meningkatkan skill serta kepuasan mereka dalam bekerja. Tentu saja, perusahaan atau organisasi dapat merasakan manfaat jika memberikan kesempatan belajar bagi pekerjanya. Kepuasan mereka dalam bekerja nantinya dapat berdampak positif pula dengan budaya kerja yang mereka cerminkan sehari-hari.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Apresiasi\"><\/span>3. Apresiasi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dalam setiap kegiatan, apresiasi dibutuhkan untuk meningkatkan semangat dan daya juang setiap pekerja. Selain itu, apresiasi juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kesadaran akan kemampuan diri pekerja. Sebuah perusahaan atau organisasi yang rutin memberi apresiasi kepada pekerjanya bisa meningkatkan engagement dan performa kerja mereka.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Kesejahteraan\"><\/span>4. Kesejahteraan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kesejahteraan bukan hanya tentang gaji atau finansiali. Kesejahteraan pekerja dapat terukur dari kesehatan fisik, kesehatan mental, hingga kesejahteraan sosial. Perusahaan yang memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan pekerjanya dan bisa bersikap empati bisa membawa kultur atau budaya kerja yang positif kepada pekerjanya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"5_Teamwork\"><\/span>5.\u00a0<em>Teamwork<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Budaya kerja teamwork merupakan tanggung jawab bersama yang membantu pekerja dalam memecahkan masalah dan membangun produktivitas di tempat kerja. Lewat budaya kerja\u00a0<em>teamwork<\/em>, perusahaan dapat mendorong pekerja untuk membentuk hubungan simbiosis yang saling menguntungkan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"6_Rasa_hormat_dan_adil\"><\/span>6. Rasa hormat dan adil<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Tidak ada yang mau membangun budaya kerja berdasarkan bias dan ketidakadilan yang bisa berakibat pada lingkungan kerja yang tidak sehat. Perusahaan harus mendorong para pekerjanya untuk bertindak adil dan hormat terhadap sesama.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"7_Kepemimpinan\"><\/span>7. Kepemimpinan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pemimpin yang baik haruslah dapat menjadi contoh yang baik pula bagi pekerja yang berada dalam naungannya. Bagaimana seorang pemimpin membangun strategi dapat menjadi cerminan dari hasil akhir bisnis dan produktivitas pekerja. Pemimpin harus bisa beradaptasi dengan cepat dan fleksibel dalam segala tantangan yang ada. Dengan pemimpin yang baik, maka budaya kerja yang positif dan membangun bukan lagi sekadar khayalan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-8619 aligncenter\" src=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/employer-branding-activation-tidak-sekadar-jadi-perancang-acara-1-300x70.jpg\" alt=\"employer-branding-activation-tidak-sekadar-jadi-perancang-acara-1\" width=\"831\" height=\"194\" srcset=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/employer-branding-activation-tidak-sekadar-jadi-perancang-acara-1-300x70.jpg 300w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/employer-branding-activation-tidak-sekadar-jadi-perancang-acara-1-1024x239.jpg 1024w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/employer-branding-activation-tidak-sekadar-jadi-perancang-acara-1-768x179.jpg 768w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/employer-branding-activation-tidak-sekadar-jadi-perancang-acara-1.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 831px) 100vw, 831px\" \/><\/p>\n<p>Artikel ini dilansir dari\u00a0<a href=\"https:\/\/www.forbes.com\/sites\/heidilynnekurter\/2020\/07\/31\/6-common-misconceptions-about-workplace-culture-that-are-hurting-your-employee-experience\/?sh=74a9682a23f3\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Forbes<\/a>,\u00a0<a href=\"https:\/\/blog.vantagecircle.com\/workplace-culture\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Vantage Circle<\/a>, dan\u00a0<a href=\"https:\/\/www.entrepreneur.com\/article\/331537\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Entrepreneur<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Budaya kerja alias\u00a0workplace culture\u00a0merupakan istilah yang paling sering disalahartikan dalam sebuah institusi perusahaan atau organisasi. Persepsi umum yang dimiliki oleh budaya tempat kerja adalah bahwa budaya itu merupakan kepribadian organisasi, terlepas dari individu yang terdapat di dalamnya. Sayangnya, persepsi ini merupakan persepsi yang salah. Budaya kerja merupakan budaya yang dianut oleh individu yang terikat di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":8682,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[18],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8680"}],"collection":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8680"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8680\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8682"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8680"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8680"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8680"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}