{"id":9887,"date":"2019-10-15T14:36:42","date_gmt":"2019-10-15T14:36:42","guid":{"rendered":"https:\/\/keblog.demoapp.xyz\/?p=9887"},"modified":"2022-10-19T03:56:17","modified_gmt":"2022-10-19T03:56:17","slug":"saatnya-manusia-mengatasi-laba-data-dan-metrik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/saatnya-manusia-mengatasi-laba-data-dan-metrik","title":{"rendered":"Saatnya Manusia Mengatasi Laba, Data, dan Metrik"},"content":{"rendered":"<p class=\"text-align-justify\">Di zaman dahulu, cukup banyak pihak yang beranggapan bahwa rekruter terbaik adalah mereka yang berasal dari latar belakang akademik Psikologi. Sedemikian lamanya anggapan ini tertanam dalam benak praktisi korporasi, hingga tercipta suatu anggapan bahwa rekruter terbaik haruslah dipilih dari mereka yang jebolan Psikologi. Jika tidak demikian, maka rekruter itu (akan) kurang hebat.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Jangan salah tangkap. Hingga detik ini saya setuju bahwa ada banyak sekali hal yang memang hanya diketahui dan\u00a0hanya dapat dilakukan oleh para jebolan Psikologi. Saya bahkan telah sering melihat betapa akuratnya \u201cbacaan\u201d Psikologi kandidat di berbagai tingkatan jabatan, jika \u201cpembacaan\u201d itu dilakukan oleh Psikolog Profesi dengan jam terbang tinggi.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Namun, seiring zaman berganti, dan ilmu pengetahuan serta wawasan apa pun kini dapat dipelajari dengan begitu mudahnya oleh siapa pun. Termasuk di dalamnya adalah ilmu rekrutmen. Era teknologi ini telah memberikan kesempatan seluas-luasnya pada rekruter non-Psikologi, untuk juga dapat menjadi rekruter terbaik dan\u00a0praktisi HR yang handal dengan empati yang kental, kecerdasan emosional yang baik, dan kecakapan komunikasi yang layak diacungi jempol.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Realitas industrial dan\u00a0ketenagakerjaan telah berubah drastis, yang mengharuskan pelaku industri dan\u00a0praktisi rekrutmen agar dapat berpikir lebih taktis serta\u00a0bertindak lebih <em>agile<\/em> dalam menyikapi Talent War dewasa ini. Termasuk ketika proses perubahan itu harus meniadakan proses-proses rekrutmen konvensional yang selama ini sudah berakar.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Di zaman <em>Baby Boomer<\/em> dan\u00a0<em>Gen X<\/em> berjaya beberapa dekade lalu, posisi perusahaan biasanya kuat\u00a0di hadapan pencari kerja dan\u00a0kandidat karyawan. Sebelum zaman teknologi marak, para <em>Baby Boome<\/em>r dan\u00a0Ge<em>n X<\/em> \u201cdipaksa\u201d untuk memasuki sistem korporasi dan\u00a0menuruti semua norma di dalamnya, demi meraih sukses. Jika tidak demikian, maka para pekerja akan tersisihkan dari sistem korporasi. Mencari dan\u00a0mendapatkan pekerjaan menjadi semakin sulit untuk dilakukan.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Kini, demografi angkatan kerja produktif berubah signifikan. Indonesia mengalami bonus demografi angkatan kerja berusia muda, yang seperti telah kita ketahui semua, telah lekat dengan teknologi komunikasi dari sejak mereka lahir ke dunia ini. Sehingga sejak bayi, telah tertanam dalam benak generasi muda bahwa informasi apa pun dapat mereka peroleh dengan cepat dan\u00a0mudah, lewat perangkat berteknologi tinggi. Termasuk di antara informasi itu adalah apa pun yang berhubungan dengan sistem rekrutmen yang sedang mereka alami, atau yang sedang bahkan\u00a0telah dialami oleh rekan-rekannya yang lain.<\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_26 counter-hierarchy\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\">TOPICS<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" style=\"display: none;\"><label for=\"item\" aria-label=\"Table of Content\"><i class=\"ez-toc-glyphicon ez-toc-icon-toggle\"><\/i><\/label><input type=\"checkbox\" id=\"item\"><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class=\"ez-toc-list ez-toc-list-level-1\"><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/saatnya-manusia-mengatasi-laba-data-dan-metrik\/#Teknologi_Viralitas_Ibarat_Mobil_yang_Dipasangi_Sistem_Turbo\" title=\"Teknologi &amp; Viralitas: Ibarat Mobil yang Dipasangi Sistem Turbo\">Teknologi &amp; Viralitas: Ibarat Mobil yang Dipasangi Sistem Turbo<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/saatnya-manusia-mengatasi-laba-data-dan-metrik\/#Internal_Dahulu_Barulah_Eksternal\" title=\"Internal Dahulu, Barulah Eksternal\">Internal Dahulu, Barulah Eksternal<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/saatnya-manusia-mengatasi-laba-data-dan-metrik\/#Culture_eats_strategy_for_breakfast\" title=\"Culture eats strategy for breakfast.\">Culture eats strategy for breakfast.<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/saatnya-manusia-mengatasi-laba-data-dan-metrik\/#Kultur_Organisasi_Pasti_Bersifat_Top-Down_Bukan_Sebaliknya\" title=\"Kultur Organisasi (Pasti) Bersifat Top-Down, Bukan Sebaliknya\">Kultur Organisasi (Pasti) Bersifat Top-Down, Bukan Sebaliknya<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/saatnya-manusia-mengatasi-laba-data-dan-metrik\/#Angka-Angka_yang_Pada_Akhirnya_Berbicara\" title=\"Angka-Angka yang (Pada Akhirnya) Berbicara\">Angka-Angka yang (Pada Akhirnya) Berbicara<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Teknologi_Viralitas_Ibarat_Mobil_yang_Dipasangi_Sistem_Turbo\"><\/span><strong>Teknologi &amp; Viralitas: Ibarat Mobil yang Dipasangi Sistem Turbo<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-medium wp-image-9892\" src=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Teknologi-_-Viralitas-Ibarat-Mobil-yang-Dipasangi-Sistem-Turbo--300x157.jpeg\" alt=\"Teknologi _ Viralitas- Ibarat Mobil yang Dipasangi Sistem Turbo\" width=\"300\" height=\"157\" srcset=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Teknologi-_-Viralitas-Ibarat-Mobil-yang-Dipasangi-Sistem-Turbo--300x157.jpeg 300w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Teknologi-_-Viralitas-Ibarat-Mobil-yang-Dipasangi-Sistem-Turbo--1024x536.jpeg 1024w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Teknologi-_-Viralitas-Ibarat-Mobil-yang-Dipasangi-Sistem-Turbo--768x402.jpeg 768w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Teknologi-_-Viralitas-Ibarat-Mobil-yang-Dipasangi-Sistem-Turbo-.jpeg 1200w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Teknologi Informasi, Telekomunikasi, dan Telematika adalah teknologi yang saya ibaratkan seperti pemasangan sistem turbo di sebuah mobil. Kita bisa saja membeli mobil yang dari sejak proses produksi dari pabriknya, telah dipasangi sistem turbo orisinil untuk menambah tenaga dan\u00a0kecepatannya ketika berjalan. Namun bagi mobil yang aslinya tidak dipasangi sistem turbo, kita bisa saja memasangnya secara mandiri (tentunya tidak semua tipe mobil), dengan bantuan bengkel ahli.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Di satu sisi, memang benar bahwa sistem turbo\u00a0 dapat menambah tenaga mobil dan\u00a0kecepatannya. Namun di sisi lain, jika mobil aslinya tidak dirancang sejak awal oleh pabriknya untuk bersanding dengan sistem turbo, maka jika mobil tersebut dipaksakan untuk dipasangi sistem turbo, bisa saja mesinnya terbakar atau meledak ketika dipaksa ngebut dan sistem turbonya sedang bekerja. Sudah banyak kasus di jalan raya dan\u00a0sirkuit balap yang mengalami hal itu.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Nah, ini mirip sekali dengan revolusi teknologi dan\u00a0komunikasi dalam sistem rekrutmen dewasa ini. Teknologi Informasi, Komunikasi, dan Telematika saya ibaratkan sebagai sistem turbo yang dipasangi di mobil kita. Jika mobil tersebut memang sejak awal benar-benar dirancang untuk berkompetisi dan dipasangi sistem turbo, maka penggunaan sistem turbo di kondisi paling ekstrim sekalipun, justru akan membuat mobil tersebut semakin digdaya, semakin kencang, dan semakin hebat.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Namun jika mobil tersebut aslinya bukan untuk balapan, pemasangan sistem turbo di dalamnya hanya akan membuatnya terbakar dan\u00a0meledak ketika digeber untuk balap dan sistem turbo-nya sedang bekerja. Terutama para <em>Owner<\/em>, Direksi, dan <em>Decision Maker<\/em> di suatu perusahaan\u00a0wajib selalu mengecek integritas serta\u00a0kesehatan sistem rekrutmen mereka, layaknya pembalap yang selalu mengecek mesin mobil dan\u00a0sistem turbonya.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Jika sistem rekrutmen di suatu perusahaan diisi oleh pribadi-pribadi yang norma komunikasinya buruk, maka kehadiran Teknologi Informasi, Komunikasi, dan Telematika hanya akan semakin menampakkan dan\u00a0memperluas kelemahan fundamental tersebut. Kondisi internal perusahaan, seperti layaknya mesin mobil, bisa saja \u201cterbakar dan\u00a0meledak\u201d ketika sistem turbonya sedang bekerja (Teknologi Informasi, Komunikasi, dan Telematika).<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Sebaliknya, jika sistem rekrutmen sebuah perusahaan diisi oleh orang-orang dengan empati, kecerdasan emosional, dan kualitas komunikasi yang tinggi\u00a0maka penggunaan Teknologi Informasi, Komunikasi, dan Telematika justru akan menjadi daya ungkit berkekuatan besar demi kemudahan mendapatkan talent-talent terbaik di pasar tenaga kerja. Ini ibarat mesin mobil yang memang sejak awal dirancang\u00a0untuk menjalani hal ekstrim di sirkuit.<\/p>\n<h2 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Internal_Dahulu_Barulah_Eksternal\"><\/span><strong>Internal Dahulu, Barulah Eksternal<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Sejak di zaman sejarah dulu kala, kehancuran organisasi-organisasi besar selalu dimulai dari bagian internalnya.\u00a0Jika internal kita kuat, tidak ada musuh yang terlalu besar atau kompetisi terlalu berbahaya untuk dihadapi bersama. Seperti halnya mesin mobil yang saya ceritakan sebelumnya. Sebelum kita memasangi sistem turbo atau jenis-jenis penambah tenaga lainnya, periksalah terlebih dahulu, apakah mesin mobil kita memang sanggup bersanding dengan sistem lain yang dirancang untuk semakin meningkatkan kapasitas dan\u00a0kehebatan mesin tersebut, hingga kondisi ekstrim.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Sudah lumrah di kalangan industrial atau pendiri perusahaan, bahwa yang menjadi \u201ctangan kanan\u201d atau <em>wingman<\/em> para <em>Founder<\/em>, <em>CEO<\/em>, atau Direksi adalah para eksekutif <em>Finance<\/em>, Sales, <em>Marketing<\/em>, Legal, dan sejumlah fungsi lainnya; yang pastinya bukanlah eksekutif <em>Human Resources.<\/em>\u00a0Ini terlihat dari profil para <em>Founder <\/em>atau <em>CEO <\/em>di seluruh dunia. Sangat jarang sekali eksekutif puncak yang perjalanan karirnya berasal dari kalangan <em>Human Resources<\/em>.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Barangkali, <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/garyvaynerchuk\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gary Vaynerchuck<\/a>\u00a0adalah salah satu dari sangat sedikit <em>Founder \/ Chairman \/ CEO<\/em> perusahaan yang berani secara tegas dan\u00a0terbuka mendeklarasikan bahwa <em>wingman <\/em>atau \u201corang kedua\u201d dirinya adalah justru eksekutif HR. Bukan bagian lain yang selama ini dipersepsikan bersentuhan langsung dengan uang, proses bisnis, dan citra perusahaan di mata publik.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Persepsi gaya lama warisan <em>Baby Boomer <\/em>dan<em> Gen X<\/em> inilah yang pada akhirnya menempatkan kemanusiaan, ketenagakerjaan, dan disiplin <em>Human Resources<\/em>; di bawah laba, angka, dan metrik kinerja perusahaan. Singkat kata, di zaman dulu, laba, angka-angka, dan metrik kinerja perusahaan; berhak untuk mendikte bagaimana sistem <em>Human Resources<\/em> harus dibentuk.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Ini semakin diperparah dengan sebuah fakta sejarah bahwa yang pertama kalinya meletakkan fondasi konsep kultur perusahaan dan\u00a0sistem kerja di Revolusi Industri versi pertama, adalah justru\u00a0Engineer, bukan Psikolog atau praktisi HR. Mekanisasi organisasi inilah yang berjalan hingga akhir dari Revolusi Industri 3.0.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Di era Revolusi Industri 4.0 di mana semakin banyak tugas manusia yang diambil-alih oleh mesin, robot, dan sistem kecerdasan buatan; justru peran empati, kecerdasan emosional, dan kecakapan komunikasi\u00a0terasa semakin penting. Tidak lain adalah karena manusia punya semakin banyak waktu dan\u00a0energi untuk membangun hubungan antar-manusia yang lebih berkualitas. Hal-hal mekanis, repetitif, dan kuantitatif; tergantikan oleh teknologi.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Di era teknologi ini, semakin terang-benderang terlihat banyaknya kalangan eksekutif yang menyadari, bahwa <em>human nature<\/em>\u00a0yang harus terlebih dahulu kita dibentuk menjadi sebuah kultur organisasi, sebelum kita mendefinisikan <em>business process<\/em>, visi, misi, dan strategi operasional harian perusahaan tersebut. Peter F. Drucker, seorang mahaguru kepemimpinan, manajemen, dan organisasi kelas dunia\u00a0mengatakan, satu adagium singkat yang hingga detik ini masih relevan kebenarannya:<\/p>\n<h2 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Culture_eats_strategy_for_breakfast\"><\/span><strong><em>Culture eats strategy for breakfast.<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Dalam Bahasa Indonesia, arti harafiahnya adalah: \u201cKultur\u201d menyantap \u201cstrategi\u201d sebagai sarapan setiap paginya. Interpretasinya adalah: Strategi sehebat apa pun, akan mandul dan\u00a0gagal, jika tanpa didahului oleh kultur organisasi yang positif dan sinergis terhadap strategi-strategi tersebut.<\/p>\n<h2 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kultur_Organisasi_Pasti_Bersifat_Top-Down_Bukan_Sebaliknya\"><\/span><strong>Kultur Organisasi (Pasti) Bersifat Top-Down, Bukan Sebaliknya<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-medium wp-image-9890\" src=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Kultur-Organisasi-300x281.jpeg\" alt=\"Kultur Organisasi\" width=\"300\" height=\"281\" srcset=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Kultur-Organisasi-300x281.jpeg 300w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Kultur-Organisasi.jpeg 670w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Jika sistem <em>Human Resources<\/em> dan\u00a0sistem rekrutmen sebuah perusahaan adalah sedemikian buruknya.\u00a0Di zaman sekarang, itu akan menjadi sebuah \u201cbom waktu\u201d berskala besar.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Maksudnya adalah,\u00a0di posisi apa pun mulai dari\u00a0<em>Founder\/CEO<\/em> hingga <em>Office Boy<\/em>, memiliki satu harapan yang sama, yaitu agar setiap posisi di organisasi atau perusahaan, diisi oleh orang-orang berkarakter baik yang juga memiliki kompetensi memadai. Karakter baik yang didukung oleh kompetensi yang prima dan semangat <em>Self Development<\/em> yang konsisten dari seorang pekerja, akan lebih menjamin gerak roda organisasi secara konsisten dan\u00a0berkelanjutan, dalam menghadapi masa depan yang semakin tak menentu dan\u00a0semakin kompetitif.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Namun, dari manakah semuanya itu harus kita mulai untuk kita bangun bersama? Mulailah dari sistem HR dan\u00a0rekrutmennya terlebih dahulu.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Di masa lalunya, perusahaan-perusahaan kelas dunia menghabiskan banyak waktu, fokus, dan biayanya untuk merekrut pekerja-pekerja yang tepat dengan kultur internal mereka. Bukan pekerja yang semata-mata berkompetensi tinggi. Itulah yang menyebabkan perusahaan-perusahaan itu menjadi sebesar saat ini. Itu semua dimulai dengan terlebih dahulu membentuk sistem HR dan\u00a0rekrutmen yang kondusif bagi bergabungnya pekerja-pekerja lainnya yang juga memiliki karakter baik.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Marilah kita camkan baik-baik logika sederhana ini:<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><strong>Hanya HR berkarakter terbaik sajalah, yang sanggup merekrut pekerja berkarakter terbaik. Hanya rekruter profesional sajalah, yang sanggup merekrut para pekerja kelas profesional.<\/strong><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Satu hal yang harus kita ingat bersama, adalah bahwa pengertian \u201cHR\u201d dan \u201crekruter\u201d disini bukanlah semata sebagai sebuah divisi, departemen, atau orang dengan <em>Job Description<\/em> tertentu; melainkan juga setiap orang yang terlibat di dalam proses pengelolaan Sumber Daya Manusia dan\u00a0rekrutmen, termasuk User dan para karyawan lainnya. Sekali lagi, ini kita sedang berbicara dalam konteks \u201ckultur organisasi\u201d secara menyeluruh, bukan semata parsial dari kacamata divisi atau departemen tertentu saja.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Lalu, kekuasaan dan\u00a0kewenangan siapakah yang harus maju terlebih dahulu, untuk membentuk sistem HR dan\u00a0rekrutmen yang sanggup merekrut pekerja-pekerja berkarakter terbaik? Ini adalah kekuasaan dan kewenangan <em>Chairman<\/em>, <em>CEO<\/em>, <em>Founder<\/em>, dan Direksi terlebih dahulu, untuk pertama kalinya. Di pundak merekalah terletak amanat terberat untuk meletakkan batu pondasi pertama bagi terciptanya kultur organisasi yang paling tepat bagi visi dan\u00a0misi apa pun yang mereka gariskan.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Ini senada dengan apa yang pernah dikatakan oleh Stephen R. Covey, mahaguru kepemimpinan, organisasi, dan manajemen kelas dunia, yang lebih terkenal dengan kerangka kerja \u201c<em>7 Habits<\/em>\u201d, yaitu:<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><strong>\u201cTidak ada keberhasilan manajemen sehebat &amp; sebanyak apa pun, yang dapat mengimbangi kegagalan satu kepemimpinan puncak\u201d.<\/strong><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Dengan kata lain, kepemimpinan puncak, dalam hal ini adalah <em>CEO<\/em>, adalah yang paling bertanggungjawab dan paling berkemampuan untuk membentuk fondasi kultur perusahaan. Jika <em>CEO <\/em>perusahaan itu lebih peduli dengan angka dan\u00a0metrik perusahaan melebihi pentingnya Sumber Daya Manusia, maka kultur perusahaannya akan diisi dengan kompetisi tidak sehat, politik organisasi, dan eksploitasi manusia atas manusia.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Namun jika <em>CEO <\/em>perusahaan itu peduli pada pentingnya kultur, Sumber Daya Manusia, dan sistem rekrutmen sebagai fondasi dan\u00a0\u201croh\u201d yang benar bagi sebuah organisasi yang sehat, maka kultur perusahaannya akan diisi oleh para pekerja yang memiliki empati, kecerdasan emosional, dan kecakapan komunikasi yang tinggi\/baik. Seperti halnya yang <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/garyvaynerchuk\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gary Vaynerchuck<\/a>\u00a0lakukan di tubuh perusahaan\/organisasinya.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Kepemimpinan puncak dalam sebuah organisasi ibarat seorang pembalap handal. Kultur organisasi ibarat mesin mobilnya. Semua departemen\/bagian lain ibarat sistem turbonya. Ketiga sistem tersebut harus harmonis dan\u00a0sinergis, demi mencapai kemenangan di sirkuit. Sehebat apapun mesinnya dan seganas apapun sistem turbonya, jika pembalapnya penakut, mobil segagah apapun hanya akan berakhir menjadi bahan tertawaan penonton.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Demikian juga dengan perusahaan dan\u00a0organisasi di zaman sekarang. Perusahaan dan\u00a0organisasi terkuat\/terbesar di dunia, adalah justru yang meletakkan pentingnya kualitas manusia di dalamnya, sebagai pondasi utama sebelum berbicara apapun tentang angka, metrik, dan strategi.<\/p>\n<h2 class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Angka-Angka_yang_Pada_Akhirnya_Berbicara\"><\/span><strong>Angka-Angka yang (Pada Akhirnya) Berbicara<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-medium wp-image-9894\" src=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Angka-Angka-yang-Pada-Akhirnya-Berbicara-300x157.jpeg\" alt=\"Angka-Angka yang (Pada Akhirnya) Berbicara\" width=\"300\" height=\"157\" srcset=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Angka-Angka-yang-Pada-Akhirnya-Berbicara-300x157.jpeg 300w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Angka-Angka-yang-Pada-Akhirnya-Berbicara-1024x536.jpeg 1024w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Angka-Angka-yang-Pada-Akhirnya-Berbicara-768x402.jpeg 768w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Angka-Angka-yang-Pada-Akhirnya-Berbicara.jpeg 1200w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Sebuah riset terbaru dari Talent Board mengatakan, bahwa sebanyak 47% dari rata-rata pelamar kerja, masih menunggu kabar atau keputusan dari perusahaan yang mereka lamar, bahkan hingga dua bulan ke depan. Hanya sekitar 20% dari seluruh subjek riset tersebut yang mengatakan bahwa mereka akhirnya menerima pemberitahuan keputusan hasil rekrutmen lewat e-mail, sementara 8%-nya lewat <em>Voice Call<\/em>. Selebihnya, rekruter raib tanpa kabar.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Senada dengan riset dari Talent Board, menurut penelitian dari Kalibrr Indonesia dalam risetnya yang berjudul <a href=\"https:\/\/kalibrr.lpages.co\/kalibrr-insight-indonesia-millenials-recruitment-guide-2019\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Millennial Recruitment Guide<\/a>\u00a0talenta milenial di Indonesia juga menyatakan bahwa 60% dari mereka tidak pernah mendapat kabar dari perusahaan yang mereka lamar sedangkan 40% lainnya mendapat kabar baik melalui e-mail ataupun melalui telepon. Ini berimbas tidak baik bagi kemungkinan aplikasi-ulang dari para pencari kerja, bagi terbukanya lowongan yang sama atau yang lain di masa depan, di perusahaan tersebut.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Menurut riset yang sama dari Talent Board, sebanyak 80% pelamar tidak sudi untuk melamar pekerjaan kembali ke perusahaan yang di masa lalunya raib tanpa kabar kepada para pelamar, tentang apapun keputusan rekrutmen yang dijalani para pelamar itu. Namun ketika ada perusahaan yang memberitahukan baik-baik apa pun keputusan sistem rekrutmen mereka pada para kandidat, bahkan walaupun itu berupa penolakan sekalipun, itu akan meningkatkan kemungkinan hingga 3,5 kali\u00a0bagi para pelamar tersebut untuk kembali melamar kerja di perusahaan itu di masa depan.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Penghargaan terhadap <em>human nature<\/em> terletak bukan pada penerimaan atau penolakan suatu perusahaan terhadap para pelamar kerja, melainkan pada kecakapan komunikasi inter-personal yang dibangun oleh para eksekutif HR dan\u00a0rekrutmen di dalamnya. Data yang lebih mengerikan muncul di sektor lain. Sekitar 72% pelamar kerja membagikan pengalaman rekrutmennya kepada orang lain lewat <em>chat, group chat,<\/em> media sosial, atau <em>job\/career portal.<\/em><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Mayoritas pencari kerja pun jauh lebih mempercayai apa yang dibagikan oleh netizen lainnya lewat <em>chat, group chat,<\/em> media sosial, atau<em> job\/career portal<\/em>\u00a0ketimbang narasi <em>Employer Branding<\/em> yang dibangun oleh perusahan-perusahaan itu.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Data dari Glassdoor telah membuktikannya. Secara rerata, para pelamar kerja menghabiskan waktu untuk membaca setidaknya enam online review dari para pencari kerja lainnya di sebuah<em> job\/career portal,<\/em> sebelum pada akhirnya memutuskan persepsi beserta keputusan mereka apakah akan melamar ke perusahaan tersebut atau melewatkannya.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\"><strong>Saatnya Menggunakan Kewenangan Untuk Memutuskan Hal Baik<\/strong><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Siapapun kita di posisi sebagai <em>Decision Maker<\/em> yang berhubungan secara langsung atau tidak langsung dengan proses rekrutmen dan fungsi HR dalam suatu perusahaan, sudah saatnya memikirkan kualitas sistem HR dan\u00a0sistem rekrutmen sebagai garda terdepan dalam memperkuat posisi perusahaan ketika tengah genting-gentingnya menghadapi Talent War.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Sebenarnya, Indonesia masih lebih beruntung.\u00a0Secara kuantitas, tenaga kerja yang ada di Indonesia ini berlimpah-ruah. Namun jika dilihat dari\u00a0sisi kualitasnya, masih terdapat <em>gap <\/em>yang lebar dan\u00a0dalam antara kebutuhan perusahaan\u00a0dengan ketersediaan kandidat yang sesuai. Janganlah <em>gap <\/em>ini semakin diperlebar dengan perilaku sistem HR dan\u00a0cara kerja sistem rekrutmen yang terus-menerus meletakkan pencari kerja\/kandidat karyawan sebagai objek penderita. Perilaku negatif ini telah terbukti secara sah dan\u00a0meyakinkan, dapat menggerus performa finansial perusahaan tersebut. Sama gawatnya dengan sistem <em>Sales, Marketing<\/em>, <em>Finance<\/em>, atau fungsi-fungsi lain andai mereka tidak bekerja dengan semestinya.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Manfaatkanlah berbagai teknologi komunikasi dan produk-produk <em>software\/<\/em>aplikasi rekrutmen\u00a0yang telah tersedia di pasar seperti yang dimiliki oleh <a href=\"https:\/\/www.kalibrr.com\/blog\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kalibrr<\/a>, demi meningkatkan kualitas sistem rekrutmen di tubuh organisasi, khususnya kualitas komunikasi yang terjalin antara rekruter, user dan dengan para pencari kerja. Jika para rekruter mengalami kesulitan untuk mengadaptasi teknologi-teknologi tersebut karena terkendala biaya dari perusahaan, maka minimal sang individu rekruter itu sendiri terlebih dahulu, yang wajib membangun kecakapan komunikasi dengan siapa pun, khususnya dengan user dan dengan para pencari kerja.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Bukankah sejatinya rekruter itu merupakan \u201cmak comblang\u201d yang harus mempertemukan antara pencari kerja dengan user? Maka dengan demikian, kecakapan komunikasi inter-personal menjadi teramat penting untuk dimiliki dan\u00a0dikembangkan oleh para praktisi HR dan\u00a0rekrutmen.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Jadilah praktisi HR dan\u00a0praktisi rekrutmen yang tidak lagi perlu melamar-lamar kerja, melainkan selalu dicari oleh para <em>Founder, CEO, Chairman,<\/em> dan <em>Decision Maker<\/em> dalam sebuah organisasi\/perusahaan,\u00a0karena keyakinan mereka bahwa ketika sistem HR dan\u00a0sistem rekrutmen itu dibangun oleh kita, maka performa perusahaan secara keseluruhan juga akan naik.\u00a0Berkat pemahaman mendalam kita akan <em>human nature<\/em> dan kecakapan komunikasi dengan siapa pun.<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\" dir=\"ltr\">Kabar gembiranya, pemahaman akan human nature dan\u00a0kualitas komunikasi itu tidak wajib hanya menjadi monopoli para lulusan jurusan Psikologi semata.\u00a0 Kabar gembira yang lain bagi para <em>Decision Maker<\/em> dan <em>Top Management<\/em> di semua perusahaan adalah,\u00a0pengelolaan sistem HR dan sistem rekrutmen yang benar, secara nyata dapat berkontribusi bagi laba, angka-angka, dan metrik performa perusahaan. Maka inilah saat yang tepat untuk menggunakan kekuasaan dan\u00a0kewenangan yang kita miliki, untuk memutuskan hal yang tepat dan\u00a0kontekstual sesuai dengan tuntutan zaman di\u00a0masa depan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-medium wp-image-9840\" src=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/recruiters-of-the-month-vinza-prisliani-dewanti-dan-tegar-rahmanto__-300x79.jpg\" alt=\"recruiters-of-the-month-vinza-prisliani-dewanti-dan-tegar-rahmanto\" width=\"300\" height=\"79\" srcset=\"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/recruiters-of-the-month-vinza-prisliani-dewanti-dan-tegar-rahmanto__-300x79.jpg 300w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/recruiters-of-the-month-vinza-prisliani-dewanti-dan-tegar-rahmanto__-1024x269.jpg 1024w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/recruiters-of-the-month-vinza-prisliani-dewanti-dan-tegar-rahmanto__-768x202.jpg 768w, https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/recruiters-of-the-month-vinza-prisliani-dewanti-dan-tegar-rahmanto__.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di zaman dahulu, cukup banyak pihak yang beranggapan bahwa rekruter terbaik adalah mereka yang berasal dari latar belakang akademik Psikologi. Sedemikian lamanya anggapan ini tertanam dalam benak praktisi korporasi, hingga tercipta suatu anggapan bahwa rekruter terbaik haruslah dipilih dari mereka yang jebolan Psikologi. Jika tidak demikian, maka rekruter itu (akan) kurang hebat. Jangan salah tangkap. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":9896,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9887"}],"collection":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9887"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9887\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9896"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9887"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9887"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/neo-blog.kalibrr.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9887"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}