Item terkait berdasarkan kata kunci pencarian Anda akan dicantumkan di sini.

Beranda>For Jobseeker > Scale Up Your Career: Memimpin di Era Industri 4.0.
For Jobseeker

Scale Up Your Career: Memimpin di Era Industri 4.0.

Karina

Maret 18 • 12 menit membaca

Sebagai kegiatan pembuka rangkaian acara Hackathon Generasi Peduli #Uangkita yang diadakan pada tanggal 1 – 3 Maret 2019 lalu, Kalibrr bersama dengan Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan Accenture menyelenggarakan acara seminar berskala nasional, yaitu Scale Up Your Career: Thought Leadership yang mengusung tema tentang Menggapai Sukses di Industri 4.0 dan Persiapan yang Dibutuhkan untuk Menghadapi Era Industri Baru.

Acara yang didukung oleh DANA, Grab, Huawei, Indonesia Eximbank, BTPN, dan Sarana Multi Infrastruktur yang dihadiri oleh lebih dari 150 peserta ini bertujuan menjadi wadah diskusi dan bertukar pikiran yang bertujuan untuk dapat meningkatkan kualitas para hadirin secara personal dan profesional.

scale-up-your-career

Menggapai Sukses di Industri 4.0: Bagaimana Bisnis dan Tenaga Kerja Dapat Berhasil di Era Baru Indonesia

Industri 4.0 merupakan era yang penuh dengan disrupsi di Indonesia, tidak terkecuali untuk banyak industri. Salah satunya adalah mengenai Grab yang memasuki Indonesia dan membawa disrupsi teknologi dalam rupa ride-hailing concept. “Beberapa tahun lalu, kita tidak pernah terpikirkan untuk bisa mencari ojek menggunakan internet.” Namun hanya dalam beberapa tahun belakangan, ojek online menjadi sebuah normalitas yang baru.

Teknologi, menurut Grab, juga tidak hanya merubah pola hidup kita. “Adanya perubahan dalam cara perekrutan, dan kebutuhan yang diperlukan perusahaan pun juga berubah.” Ia kembali mengutip, bahwa tidak hanya segmen seperti ride-hailing yang terpengaruh. Industri konvensional seperti bank pun juga terkena imbasnya.

“Sistem lending di Era Industri 4.0 juga tidak terbatas dengan meminjam di bank. Berbeda dengan dulu.” Pihak Exim Bank Indonesia juga menimpali mengenai masuknya disrupsi teknologi dalam sektor-sektor konvensional. Adanya organisasi-organisasi seperti tekfin (teknologi finansial) yang spesialis dalam peer-to-peer lending juga membuat bank konvensional harus memutar otak untuk menanggulangi disrupsi tersebut. Beliau juga menyebutkan akan pentingnya bank, untuk tidak lagi terpatri pada cara pikir konvensional dan mulai merangkul teknologi baru yang bermanfaat.

Teknologi yang akan membantu bank konvensional untuk dapat beradaptasi dengan zaman juga disinggung oleh pihak Accenture. Sebagai firma konsultan yang terkemuka di dunia dengan banyak sektor industri yang didukung, selalu up to date dengan teknologi adalah sebuah keharusan. “Accenture adalah sebuah perusahaan yang berbasis kepemimpinan inovasi. Dengan prinsip “imagine and invent”, kami mendorong semua klien kami untuk terus berinovasi selagi memeluk teknologi untuk kemajuan perusahaan.”

Donald Tirtaatmadja Managing Director-Communication, Media and Technology industry, Accenture

 

Sudah jelas, dengan masuknya disrupsi teknologi, kemampuan untuk programming dan memahami teknologi menjadi sebuah hal yang sangat diinginkan. “Saya rasa tren ini juga tidak akan berubah dalam beberapa tahun ke depan, apalagi di Indonesia.” Lanjut pihak Accenture.

Huawei, yang bergerak dalam sektor industri, terutama dalam inovasi gawai pintarnya, menyetujui hal ini. “Untuk sukses dalam Industri 4.0 maka seseorang juga harus menjadi fleksibel—dalam programming, ada istilahnya untuk menjadi agile.” Jelas Huawei.

Dalam industri 4.0, selain penting untuk memiliki kemampuan untuk coding dan programming, hal lain yang diperlukan adalah pemahaman mengenai komunikasi. “Teknologi berguna untuk menjembatani. Jika tidak bisa berkomunikasi dengan baik, maka hal itu akan sia-sia.” Pungkas Accenture.

 

IndustrI 4.0: Persiapan yang Diperlukan.

CEO DANA Vincent Iswara membuka sesi kedua dengan pentingnya entrepreneur mindset. Berbekal 17 tahun pengalaman sebagai entrepreneur, mindset entrepreneur ini jadi penting karena membawa cara penyelesaian masalah dengan sudut pandang yang berbeda. “Yang kita melihat adakah masalah dari user yang bisa kita selesaikan atau kita bisa usahakan solusinya.” Beliau melanjutkan, memulai dari mempersiapkan konsep bisnis yang lebih baik, dibantu dengan servis yang baik, kita bisa menyelesaikan masalah yang dimiliki target user kita dengan solusi yang sustainable dan long-lasting. “Inovasi adalah tentang mewujudkan dan terus memperbaharui dan membuat hipotesa kita menjadi lebih baik.”

CEO-DANA

Information Technology and Digital Transformation Advisor dari Bank BTPN Tbk. Karim Siregar juga menimpali, mengenai kondisi hubungan Indonesia dengan Industri 4.0 sebagai hal yang menarik. “Customer segments juga jadi bertambah banyak, apalagi banking di era sekarang tidak bisa punya cara piker ‘take for granted’ karena ada banyak solusi yang bisa ditawarkan di luar dari institusi perbankan.” Bank konvensional tidak lagi menjadi pilihan satu-satunya dalam skema peminjaman; ditambah lagi dalam industri perbankan, kecenderungan untuk long-term planning—yang walaupun penting, namun seringkali membuat banyak orang jadi kaku untuk tetap mengikuti rencana yang mungkin sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Perencanaan jangka panjang, di era Industri 4.0 ini, menjadi penting sebagai guidance; bukannya kaku menjalani rencana yang sudah dibuat sebelumnya.

Bergerak dalam institusi keuangan di masa kini harus menjadi Enabler. “Jenius adalah contoh Life Finance; bagaimana konsumen bisa melihat bagaimana finance itu adalah bagian dari hidup. We can control risk in a different way. It’s about how we approach banking with different ways.” Tantangan lainnya adalah sejak merging dengan SMBC, BTPN punya tantangan untuk terus berkembang dengan organisasi yang termasuk kaku karena sudah lama

Presiden Direktur PT SMI Emma Sri Martini mengutip bahwa Industri 4.0 sesungguhnya adalah sebuah keniscayaan. “Tidak bisa dihindari apalagi dengan populasi Indonesia yang banyak, hal itu adalah hal yang tidak bisa terelakkan, dan malah dengan banyaknya populasi Indonesia, hal itu bisa menjadi keuntungan.”

Beliau juga menyinggung hal-hal seperti Artificial Intelligence, Asynchronous Transfer Mode, Internet of Things, dan lain sebagainya. “Dalam kasus Jepang, hal-hal ini bukan hanya solusi, melainkan sebuah value added.” Hal-hal tersebut sudah berintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kasus internet of things, hal yang paling umum dijumpai adalah drone. Di luar negeri, drone juga lazim dipakai untuk membantu petani, mulai dari untuk menanam tanamannya, memupuk, dan mengairi kebunnya dengan drone. “Tidak mustahil juga di masa depan, Grab bisa kirim makanan dengan drone. Tidak perlu lagi dengan tenaga manusia.”

Ibu Emma juga mengucapkan terima kasih pada Kementerian Keuangan karena sudah terbuka dengan disruption ini dan mau merangkul konsep agile untuk menanggapi perubahan-perubahan di masa kini dalam sistem birokrasi.

Emma-Sri-Martini

Managing Director of Kalibrr Indonesia Sanuk Tandon, mencontohkan Kalibrr sebagai bagian dari hasil karya industri 4.0. Hal ini karena Kalibrr merevolusi industri human resource dan perekrutan di Indonesia. “Dalam industri 4.0, Sky is totally the limit. Apalagi bisnis yang highly exposed to technology seperti banking, bahkan dalam industri yang digeluti Kalibrr, yaitu human resource. Disruption akan selalu baik apabila harus disupport dengan agility.”

Reformasi Sumber Daya Manusia (SDM) juga menjadi penting; jika prasarana sudah ada namun SDM di Indonesia belum kuat, maka kita, sebagai orang Indonesia, bisa beresiko hanya bisa jadi penonton. Dalam level makro, kebijakan dan birokrasi yang menjadi tanggung jawab para policy maker juga harus sesuatu yang enabling dengan memeluk agility dalam konsep kerja mereka. “Bahaya kalau sudah losing momentum karena ini akan membuat kita bakal jauh tertinggal.”

Yang sering terjadi dalam lanskap perekrutan di Indonesia masa kini adalah ketika sebuah perusahaan menyadari ada kebutuhan skills tersebut, pada waktu tersebut, biasanya sudah terlambat bagi perusahaan untuk mengejar ketertinggalan. Melihat pola perkembangan teknologi atau digital trends, 10 tahun lalu misalnya, data science adalah bidang yang jarang dipahami, apalagi mencari yang punya spesialisasi di bidang tersebut lebih sukar lagi. Saat ini, karena mayoritas perusahaan sudah menyadari pentingnya kemampuan data science, implementasinya seringkali sudah terlambat. Ketika terlambat, hal ini akan membuat susah bagi perusahaan untuk mengejar ketertinggalan karena sudah banyak perusahaan lain memiliki talenta data scientist tersebut. “Biasanya kalah karena perusahaan lain sudah implement teknologi tren tersebut jauh lebih dahulu dan kita baru mau berkembang.”

Menjadi sukses di Industri 4.0 memerlukan banyak hal yang harus dikejar, terutama dalam berbagai sektor. Penting bagi setiap penggelut sektor industri masing-masing untuk memahami pentingnya untuk tetap fleksibel, berinovasi, dan memiliki mindset problem solving seperti seorang entrepreneur.

Bagikan via:

Tentang Penulis

Hello, my name is Karina and I work as a freelance contributor at Kalibrr. I enjoy reading self-improvement books and working out. Lebih Lanjut Karina

Komentar (0) Kirim Komentar

Belum ada komentar yang tersedia!